Aku
masih mengingat perpisahan menyakitkan itu. Mengakhiri sesuatu tidak segampang
ketika memulainya. Dua tahun bertahan menjalani kisah LDR berakhir karena tidak
lagi sepaham. Kalian tahu, kita menjalani hubungan karena percaya kita saling
memperjuangkan. Jika satu orang mulai ragu dan menempatkan kamu bukan lagi
sebagai tempat kembali, maka kamu harus tahu bahwa kamu bukan lagi nomor satu
di hatinya. Oke memang terkesan egois meminta menjadi nomor satu. Tapi buat
orang yang menjalani LDR mereka tahu pasti akan hal ini.
Doa
ku Cuma satu, jika aku harus LDR kembali suatu saat, aku tidak mau di posisi
menunggu. Aku ingin di posisi yang ditunggu.
Menurutku cewek itu lemah, mereka sulit akses pergi kemana-mana dan
cenderung meminta bantuan daripada berusaha sendiri. Sehingga mereka akan
sering meminta tolong (yang awalnya) teman mereka. Begitu banyak cowok gak tahu
diri yang masih saja mendekati pacar orang. Udah jelas-jelas punya pacar. Masih
aja dideketin. Gila!
Beda
halnya dengan cowok. Iya. Cowok lebih parah lagi. Karena tidak ada yang
mengawasi maka mereka cenderung mendekati semua cewek. Kamu pikir cewek mau
tipe kayak gitu ._.
Kamu
lebih gila dari yang tergila!
Tuh
kan, gk ada untungnya LDR. Susah. Kenapa susah? Karena lingkungan baru sering
membuat kita lupa akan pentingnya memperhatikan orang yang sedang menjalin
hubungan dengan kita. Terutama jika sama-sama bertemu lingkungan baru.
Komunikasi hanya menjadi rutinitas, bukan lagi penantian. Kamu chat dengan
pacarmu sekedar ingin memberi tahu kegiatanmu, hanya untuk menghindari konflik
di kemudian hari. Bukan lagi sebagai tanda bahwa kamu ingin si dia tahu semua
kegiatanmu. Ada yang hilang seiring lamanya kamu menjalani hubungan yang tak
diharapkan ini. Rasa ingin tahu. Semua terkesan hambar, datar, flat. Kamu baru
merasa kehilangan setelah pisah dengan pasangan kamu. Kalau udah gini, mau nyalahin
siapa? Gak ada.
Dan
aku mau memberitahu kabar gembira buat kalian semua.
Bukan.
Bukan kulit manggis ada ekstraknya.
Aku
saat ini sedang LDR lagi, dan kali ini posisiku adalah ditunggu (terima kasih
Tuhan telah mendengar doaku).
Aku
memang bilang LDR gak ada untungnya, buat kalian yang tidak setuju dengan
perkataanku. Berarti kita sama ahaha.
Memang
gak ada untungnya, aku sendiri tidak menyukai LDR, tapi aku tidak pernah
membencinya. Karena menurutku hanya orang-orang hebat yang bisa LDR-an. Orang pesimis
akan memilih pisah daripada harus menjalani hubungan jarak jauh. Orang optimis
memilih menunggu. Menunggu pasangannya kembali kepadanya. Jika kamu menganggap
tidak ada yang mustahil dan percaya dengan pasanganmu.
Lakukan!
Jangan takut LDR! Jangan mau dikalahkan LDR. Tunjukkan kuatnya hubungan kalian
saat janur kuning sudah melengkung.
Dan
buat semua yang sedang menjalani LDR, mari kita berjuang.
Semoga
kita selalu berusaha menyisihkan waktu untuk orang yang kita sayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar