Minggu, 17 Januari 2016

PAGE 6 - QUOTE


NO YOU DON'T!
Part of my soul lived within her.



I have my own will.


I won't let this distance tears us apart


My biggest fear.


Please...

Sabtu, 16 Januari 2016

PAGE 5 – aku berjuang karena kamu orangnya!

Weekend.
Hari minggu ini biasanya digunakan oleh orang untuk berpergian. Entah itu dengan pasangannya, atau teman-temannya. Ada juga yang memilih nonton tv di rumah. Ada yang kondangan. Ada yang merasa hari minggu ini tidak ada bedanya. Ya aku salah satunya.
Sendirian di kosan ditemanin secangkir kopi membuat aku merasa ini tidak ada beda dari hari biasanya. Malahan minggu sebelumnya aku memilih masuk kantor daripada harus di kosan. Tapi minggu ini aku memilih untuk istirahat.

Oke back to masalah ldr.
Diterima di salah satu badan usaha milik negara tentu sesuatu yang membanggakan. Saat aku lulus, semua orang larut dengan suka cita. Aku senang karena aku akan memulai semuanya serba baru. Aku tahu bahwa tidak mungkin aku bekerja di kota kelahiranku. Perasaan untuk tinggal di kota yang baru itu sangat menyenangkan untukku. Sampai aku sadar. Hidup di tempat yang baru berarti meninggalkan semua hal yang lama.
Pacarku tentu saja sangat senang dengan kelulusanku. Setidaknya masa depan kami menjadi lebih jelas. Tapi entah kenapa ada perasaan di hati ini yang sangat menekan. Ada apa ini. Harusnya aku gembira. Lalu aku menatap matanya. Saat melihat matanya yang berkaca-kaca. Aku tahu. Aku tidak bisa lagi menjalani hari-hari bersamamu seperti biasanya. Ya aku tidak bisa lagi menjemputmu seperti biasanya. Aku tidak bisa makan bersamamu seperti biasanya, aku tidak bisa lagi nonton bersamamu seperti biasanya. Aku tidak tahu. Tapi aku sangat mengkhawatirkanmu saat itu.
 ‘apa kamu bisa melakukan semuanya sendiri?’.
Kata-kata yang terus tertuang di pikiranku namun berhasil kutahan keluar dari lidahku.
saat menulis ini, aku lega bahwa kamu bisa melakukan semuanya sendiri. terus berjuang yah kamu.

Semakin hari semakin dekat dengan kepergianku. Kita lebih banyak diam. Kita sudah saling mengerti apa yang yang akan tejadi kedepannya. Yang tidak kita mengerti, sanggupkah kita menghadapinya?
Aku memiliki pengalaman yang buruk menjalani hubungan jarak jauh. Kamu, kamu bukan tipe yang bisa ldr-an. Aku menyadari itu. Kamu pasti lebih tahu.
Aku pernah membahas di blog ku sebelum ini bahwa “yang paling penting dalam menjalani ldr itu bukan komunikasi, tapi kepercayaan”. Kami sama-sama tidak tahu apa kegiatan yang dilakukan. Karena itu aku sadar, aku tidak bisa menuntut lebih. Pacarku sudah mau memberitahu kegiatannya pun sudah cukup untukku.
Pernahkan kalian berpikir, kenapa aku mau ldr-an kembali setelah mengalami kegagalan. Seperti kubilang sebelumnya, aku tidak membenci ldr. Ldr itu hanya untuk orang-orang kuat! Yang lemah mundur saja.
Aku tidak pernah suka membahas ini, bahkan kepada pacar ku pun sekalipun begitu. Tapi aku perlu menuangkan beberapa hal disini.
Terus apakah aku kuat?
Tidak. Aku sangat lemah. 
Aku bukan tipe yang percaya diri. Trauma akan masa lalu terkadang membuat semua terasa percuma untuk dijalani.
Tapi,
Kamu berbeda. Kamu kuat. Walau air mata mengalir dari matamu. Kamu tidak pernah meragukanku.
Itulah kepercayaan. bagi ku ada sesuatu hal di diri kamu yang tidak pernah aku lihat di perempuan pada umumnya. Hal itu sangat membuatku yakin menjalani ini bersamamu. kita memulai hal yang baru. Yang selama ini tidak pernah kita bayangkan akan terjadi,
namun
Jika bukan kamu, maka aku lebih memilih sendiri daripada ditinggal lagi.
 Jika bukan kamu, maka jangan harap aku mau menjalani LDR.
Karena kamu, mempercayaiku.

Aku ingin melewati semuanya denganmu. Termasuk hubungan jarak jauh ini sekalipun.

PAGE 4 – LDR, aku tidak menyukaimu.

Aku masih mengingat perpisahan menyakitkan itu. Mengakhiri sesuatu tidak segampang ketika memulainya. Dua tahun bertahan menjalani kisah LDR berakhir karena tidak lagi sepaham. Kalian tahu, kita menjalani hubungan karena percaya kita saling memperjuangkan. Jika satu orang mulai ragu dan menempatkan kamu bukan lagi sebagai tempat kembali, maka kamu harus tahu bahwa kamu bukan lagi nomor satu di hatinya. Oke memang terkesan egois meminta menjadi nomor satu. Tapi buat orang yang menjalani LDR mereka tahu pasti akan hal ini.
Doa ku Cuma satu, jika aku harus LDR kembali suatu saat, aku tidak mau di posisi menunggu. Aku ingin di posisi yang ditunggu.  Menurutku cewek itu lemah, mereka sulit akses pergi kemana-mana dan cenderung meminta bantuan daripada berusaha sendiri. Sehingga mereka akan sering meminta tolong (yang awalnya) teman mereka. Begitu banyak cowok gak tahu diri yang masih saja mendekati pacar orang. Udah jelas-jelas punya pacar. Masih aja dideketin. Gila!
Beda halnya dengan cowok. Iya. Cowok lebih parah lagi. Karena tidak ada yang mengawasi maka mereka cenderung mendekati semua cewek. Kamu pikir cewek mau tipe kayak gitu ._.
Kamu lebih gila dari yang tergila!
Tuh kan, gk ada untungnya LDR. Susah. Kenapa susah? Karena lingkungan baru sering membuat kita lupa akan pentingnya memperhatikan orang yang sedang menjalin hubungan dengan kita. Terutama jika sama-sama bertemu lingkungan baru. Komunikasi hanya menjadi rutinitas, bukan lagi penantian. Kamu chat dengan pacarmu sekedar ingin memberi tahu kegiatanmu, hanya untuk menghindari konflik di kemudian hari. Bukan lagi sebagai tanda bahwa kamu ingin si dia tahu semua kegiatanmu. Ada yang hilang seiring lamanya kamu menjalani hubungan yang tak diharapkan ini. Rasa ingin tahu. Semua terkesan hambar, datar, flat. Kamu baru merasa kehilangan setelah pisah dengan pasangan kamu. Kalau udah gini, mau nyalahin siapa? Gak ada.

Dan aku mau memberitahu kabar gembira buat kalian semua.
Bukan. Bukan kulit manggis ada ekstraknya.
Aku saat ini sedang LDR lagi, dan kali ini posisiku adalah ditunggu (terima kasih Tuhan telah mendengar doaku).
Aku memang bilang LDR gak ada untungnya, buat kalian yang tidak setuju dengan perkataanku. Berarti kita sama ahaha.
Memang gak ada untungnya, aku sendiri tidak menyukai LDR, tapi aku tidak pernah membencinya. Karena menurutku hanya orang-orang hebat yang bisa LDR-an. Orang pesimis akan memilih pisah daripada harus menjalani hubungan jarak jauh. Orang optimis memilih menunggu. Menunggu pasangannya kembali kepadanya. Jika kamu menganggap tidak ada yang mustahil dan percaya dengan pasanganmu.
Lakukan! Jangan takut LDR! Jangan mau dikalahkan LDR. Tunjukkan kuatnya hubungan kalian saat janur kuning sudah melengkung.
Dan buat semua yang sedang menjalani LDR, mari kita berjuang.

Semoga kita selalu berusaha menyisihkan waktu untuk orang yang kita sayang.

PAGE 3 - Mom


Mom, you'll always be my first, my last, my priority, my everlasting, my everything that I loved for the rest of my life.

PAGE 2 – AWAL YANG BARU

Ah, 2016.
Ini sungguh menjadi awal yang baru untuk hidupku. Terima kasih Tuhan untuk hidupku yang luar biasa di Tahun 2015. Semoga tahun ini menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Jika tahun-tahun sebelumnya aku disibukkan dengan urusan kuliah. Maka tahun ini akan berbeda. Aku bukan lagi seorang mahasiswa, aku sudah melewati kerasnya perjuangan skripsi, melelahkannya revisi hingga sulitnya bertemu dosen pembimbing. Berkat itu, aku bisa selfie pake toga hhehe.
saat ini status ku sudah seorang pegawai di salah satu badan usaha milik negara di bumi indonesia ini. Jika tahun sebelumnya, aku hanya perlu bangun pagi, menunggu sarapan dari mama, berangkat ke unsri bukit, dorong sana dorong sini (anak layo pasti ngerti), belajar kemudian bercengkrama. Kemudian pulang. Kalau ada waktu, mungkin meluangkan waktu ke mall menjadi hal yang menyenangkan. Apalagi jika dilakukan bersama teman kuliah.
Sekarang? Bangun aku harus sibuk menyiapkan semuanya sendiri. Dari sarapan, mencuci, hingga cari makan. Yaps, inilah aku di tahun 2016. Aku sudah jauh meninggalkan zona nyaman ku.
Kalian tahu, ketika pertama kali menghuni ruang seluas 3x4 meter ini aku menangis. Aku menangis bukan karena menerima fakta aku harus hidup sendirian ataupun karena aku jauh dari kota tercintaku. Aku menangis karena harus pisah dengan orang tuaku. Ini memang menunjukkan kalau aku lemah, tapi aku berjuang mati-matian masuk ke perusahaan ini demi orang tuaku, untuk kebanggaan mereka. Lalu kenapa aku harus jauh dari mereka? Itulah pikiran ku saat itu.
Hidup bukan Cuma satu jalan, kita semua bebas memilih pilihan hidup ini. Inilah pilihan ku. Aku memilih pergi dari zona nyamanku. Anggap saja aku mencari jati diri, arti sebuah kedewasaan dari hidup mandiri, walau aku harus jauh dari kedua orang tuaku yang aku sayangi, teman-teman seperjuanganku, dan jauh dari kamu. yang aku cintai.


PAGE 1- SEPATAH DUA KATA

Halo, Apa kabar?

Sepenggal kata yang kuucapkan untuk diriku sendiri. Sudah lama jemari ini tidak menari diatas keyboard. Menuliskan kisah-kisah yang terjadi tentang hidupku. Akhirnya aku memutuskan untuk menulis kembali setelah vakum tiga tahun gak nulis. Selain untuk membunuh rasa bosan yang melanda di kosan. Terkadang kita perlu meluangkan curahan hati kita agar ada tempat untuk kita menceritakan semua hal yang terjadi.
Inilah adalah kisah tentang aku, kamu bisa bebas berpikir apapun tentang aku. Tapi yang paling aku inginkan adalah menjadi diri sendiri hhehe.

Selamat membaca!